BNPB dan BMKG Kerja Sama Perkuat Sistem Peringatan Dini Banjir Lahar Dingin Gunung Marapi

Pojokstudy ~

Jumat, 17 Mei 2024 – 18:53 WIB

Padang – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bekerja sama untuk memperkuat sistem peringatan dini banjir lahar dingin dan tanah longsor di sekitar kawasan Gunung Marapi Sumatra Barat (Sumbar).

Baca Juga :

Jokowi Pede Bendungan Ameroro Mampu Atasi Banjir dan Krisis Air di Konawe

“Segera buat sistem peringatan dini menggunakan kabel untuk mengukur tinggi muka air,” kata Kepala BNPB Letnan Jenderal (Letjen) TNI Suharyanto di Padang, Jumat, 17 Mei 2024.
Mengingat penguatan sistem peringatan dini tersebut tidak terlalu membutuhkan biaya yang besar, Suharyanto menyarankan penggunaan anggaran hibah dan rehabilitasi atau dana siap pakai. BNPB juga siap mendampingi pemerintah daerah untuk membangun sistem itu.
Baca Juga :

Puluhan Kampung Tenggelam, Kabupaten Mahakam Ulu Tetapkan Status Darurat Banjir

Pencarian korban banjir lahar Marapi

Photo :

VIVA.co.id/Andri Mardiansyah (Padang)

Suharyanto mengatakan BNPB akan terus mendorong penguatan sistem peringatan dini bagi masyarakat khususnya yang bermukim tidak jauh dari kaki Gunung Marapi di Kabupaten Tanah Datar maupun Kabupaten Agam.
Baca Juga :

Masih Banyak Material Sisa Erupsi Gunung Marapi yang Bisa Picu Bencana Susulan, Kata Gubernur

Pembuatan sistem peringatan dini tersebut sesuai dengan rekomendasi yang disampaikan BMKG pada saat rapat koordinasi kebencanaan. Lembaga itu menekankan pentingnya membangun sistem peringatan dini bencana banjir bandang langsung di masyarakat.Senada dengan itu, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan sistem peringatan dini yang selama ini digunakan atau disampaikan instansi yang dipimpinnya lebih kepada peringatan dini hujan.”Peringatan dini yang kami sampaikan adalah peringatan dini hujan, dan ini tidak terkait dengan peringatan dini banjir lahar,” jelas dia.

Banjir lahar dingin Marapi

Photo :

VIVA.co.id/Andri Mardiansyah (Padang)

Artinya, sambung mantan rektor Universitas Gadjah Mada tersebut, harus ada sebuah sistem peringatan dini yang mampu mengukur tinggi muka air seperti bentang kabel. Sehingga, apabila kabel itu terputus maka sirene secara otomatis akan berbunyi dan alat itu harus dipasang di bagian hulu sungai.Setelah melakukan analisa BMKG menemukan adanya anomali cuaca. Sebab, meskipun musim kemarau, faktanya Provinsi Sumbar tetap dilanda hujan. Sehingga diperlukan penanganan jangka panjang secara permanen berupa kesiapsiagaan dan mitigasi guna mengantisipasi bencana serupa terulang lagi.”Karena memang di sekitar kaki Gunung Marapi banyak pertemuan sungai bahkan hingga tiga sungai. Ini perlu ditangani dengan kesiapsiagaan dan mitigasi jangka panjang,” ujar dia.Kepala BMKG menegaskan hal itu perlu menjadi perhatian serius pemangku kepentingan. Sebab, jika tidak disikapi maka dapat menjadi ancaman berikutnya dan dikhawatirkan berdampak lebih besar dari sebelumnya.”Kami tidak menakuti tapi ini harus ditangani bersama apabila tidak ada hujan insyaa Allah aman,” kata Dwikorita. (ant)

Halaman Selanjutnya
Senada dengan itu, Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan sistem peringatan dini yang selama ini digunakan atau disampaikan instansi yang dipimpinnya lebih kepada peringatan dini hujan.