160 Ribu Kematian Per Tahun! Indonesia Perjuangkan TBC Resisten Obat di PBB

Pojokstudy ~
NEW YORK  – Perwakilan Stop Tuberkulosis Partnership Indonesia (STPI) bersama dengan Stop TB Partnership (STP) global dan perwakilan negara lain yang bekerja dalam upaya penanggulangan Tuberkulosis (TBC) menghadiri dengar pendapat pertemuan tingkat tinggi perserikatan bangsa-bangsa tentang Resistensi Antimikroba atau Antimicrobial Resistance (AMR) di New York, Amerika Serikat.

Baca Juga :

Indonesia Kekurangan Tenaga Kesehatan, Universitas MH Thamrin Siap Berkontribusi

Dalam pertemuan tersebut, STPI bersama perwakilan Stop TB Partnership lainnya menyampaikan pentingnya memasukkan upaya penanggulangan TBC Resisten Obat (RO) sebagai bagian dan target dari upaya penanggulangan AMR. Salah satu delegasi Indonesia, Nurul Luntungan selaku Ketua Yayasan STPI mengungkapkan.
“Integrasi antara isu TBC RO dan AMR tidak hanya akan membawa manfaat bagi sistem kesehatan, tapi terutama untuk orang yang terdampak dengan situasi ini. Sangat disayangkan bahwa upaya untuk bekerja dengan pendekatan sistem yang lebih efisien harus terbentur oleh kebijakan global yang tidak terfragmentasi,” ucap Nurul.
Baca Juga :

Masih Sering Khilaf Doyan Mie Instan, Kebiasaan dr Zaidul Akbar Terungkap

perwakilan STIP bersama dengan STP

“Komitmen politik terkait AMR pada UN-HLM 2024 ini diharapkan dapat memberikan solusi pada situasi ini dengan memasukkan TBC RO sebagai bagian penting dalam penanggulangan AMR,” sambungnya.
Baca Juga :

Menkes Budi Sebut Tidak Ada Rencana Ubah Iuran BPJS Kesehatan pada 2024

Perlu diketahui Resistensi Antibiotik, terjadi akibat evolusi bakteri yang menyebabkan tidak efektifnya pengobatan antibiotik. AMR merupakan salah satu ancaman terbesar terhadap kesehatan masyarakat global saat ini. Resistensi antimikroba, menyebabkan 4,9 juta kematian selama tahun 2019, mempengaruhi kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan di sekitarnya.Tanpa adanya intervensi yang serius, jumlah kematian akibat AMR diperkirakan akan terus meningkat hingga 10 juta jiwa per tahun pada tahun 2050, melampaui kematian yang disebabkan penyakit jantung, kanker dan diabetes. Tidak efektifnya pengobatan infeksi pada negara berpendapatan rendah diperkirakan memicu kehilangan 5% GDP, mendorong 28 juta orang masuk dalam kemiskinan pada tahun 2050.Stop TB Partnership Indonesia sebagai lembaga yang terus berupaya memberantas Tuberkulosis melalui kemitraan lintas sektor, melihat peluang dari pertemuan ini untuk memperkuat upaya menanggulangi Tuberkulosis Resisten Obat (TBC-RO).

Perwakilan STPI bersama dengan STP

“Sekitar 160 ribu  kematian setiap tahunnya disebabkan TBC RO, yang juga merupakan bentuk resistensi antibiotik akibat evolusi bakteri Mycobacterium Tuberculosis, pada obat TBC  lini pertama. Maka dari itu kami mendorong agar polemik dari TBC-RO bisa masuk kedalam agenda penanggulangan Resistensi Antimikroba, agar kita memiliki strategi yang tidak terfragmentasi dan efisien untuk mengentaskan masalah ini” terang Nurul.Sebagai  gambaran pada tahun 2015, World Health Organization (WHO) menerbitkan ‘Global Action Plan on Antimicrobial Resistance’ (GAP AMR) yang disahkan pada pertemuan 68th World Health Assembly (WHA) di Geneva, Swiss. Sasaran rencana aksi global ini adalah menangani masalah resistensi antimikroba, termasuk resistensi antibiotik dan antibiotik yang cenderung mengalami resistensi tercepat.Pada tahun 2016, WHO International Health Regulation (IHR) membentuk Joint External Evaluation (JEE) Tools untuk melakukan monitoring dan evaluasi di 19 area teknis, termasuk pencegahan AMR. Rekomendasi JEE untuk negara Indonesia tahun 2017 mencakup beberapa aspek termasuk pembentukan komite antar kementerian untuk mengimplementasi Rencana Aksi Nasional (RAN) AMR secara komprehensif.Sayangnya, tidak ada kebijakan tingkat global terkait AMR yang dikeluarkan WHO memasukkan TBC RO untuk diturunkan dalam kebijakan tingkat regional maupun nasional. Sebagai dampaknya, RAN Pengendalian Resistensi Antimikroba 200 -2024 yang dikeluarkan oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan dan Kebudayaan Republik Indonesia pun tidak memiliki target terkait penanggulangan TBC RO. Padahal TBC RO merupakan bagian dari resistensi antimikroba yang terus meningkat.Hal ini juga turut menjadi sorotan Nurul “Rencana Aksi Global WHO tentang AMR, dan Alat Evaluasi Eksternal Bersama IHR, keduanya tidak memasukkan TBC sebagai bagian penting dan saling bergantung dari tujuan dan target strategis AMR. Ini menciptakan ketidaksesuaian, fragmentasi, dan ketidakefisienan dalam sistem kesehatan di tingkat negara dan pelaksanaannya” terang Nurul“Integrasi antara TB dan AMR akan saling menguntungkan sistem kesehatan negara dan orang-orang yang terdampak oleh situasi tersebut. Sangat disayangkan bahwa kebijakan global menjadi penghalang dari apa yang dibutuhkan di tingkat negara” tambah NurulSalah satu delegasi dari Afrika Barat, staf bagian kesehatan Nigeria menuturkan “Jumlah penderita TB resisten obat meningkat sementara yang menerima perawatan tetap rendah. Deklarasi politik yang kuat diperlukan untuk meningkatkan kesadaran akan hubungan ini” tutur beliauMaka dari itu rapat dengar pendapat pertemuan tingkat tinggi perserikatan bangsa-bangsa kali ini, dimana peserta yang hadir mendapat kesempatan untuk berbagi pandangan terhadap prioritas kunci dalam rapat tingkat tinggi dan deklarasi politik, serta mengelaborasi tantangan dan solusi potensial untuk menyelesaikan masalah AMR di tingkat nasional, regional, dan global. “Saya, mewakili suara dari negara-negara yang menghadapi frustasi serupa, mendesak deklarasi politik AMR untuk mengakui TB resisten obat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari komitmen global untuk memerangi AMR. Hal ini untuk memasukkan langkah-langkah yang terbukti mencegah dan mengobati TB Resisten Obat sebagai bagian dari intervensi strategis, dimana kita harus konsisten, tidak diskriminatif, dan efisien dalam sumber daya dalam strategi untuk memerangi AMR, tutup Nurul.

Halaman Selanjutnya
Tanpa adanya intervensi yang serius, jumlah kematian akibat AMR diperkirakan akan terus meningkat hingga 10 juta jiwa per tahun pada tahun 2050, melampaui kematian yang disebabkan penyakit jantung, kanker dan diabetes. Tidak efektifnya pengobatan infeksi pada negara berpendapatan rendah diperkirakan memicu kehilangan 5% GDP, mendorong 28 juta orang masuk dalam kemiskinan pada tahun 2050.